Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juli 2014

Made Arjaya, Nyawa Bali yang Me-Udeng Poleng

Dikenal sebagai politisi muda, vokal dan militan namun dibalut dengan kesederhanaan dan kesahajaan. Teguh pada prinsip untuk terus mengawal nilai-nilai kebenaran universal dalam perjuangan politiknya. Kehadirannya dalam panggung politik Tanah Air, dan Bali khususnya, menjadi oase di tengah kegersangan simpati publik terhadap sepak terjang politisi. Demikian publik mengenal sosok I Made Arjaya.

Selain disapa Arjaya—pada masa kecilnya disapa Debuh, politisi yang dilahirkan dari rahim PDIP itu juga kerap disapa “Pak Poleng” karena keseharian Ketua Komisi I DPRD Bali itu yang selalu menggunakan Udeng Poleng. Rupanya Udeng Poleng itu, selain telah menjadi branding pribadi, Udeng Poleng itu kini menjadi branding politik Arjaya untuk bisa mendekatkan diri dengan masyarakat Bali dalam perjuangannya merebut kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada pemulu tahun 2014 mendatang.

Sosok politisi langka yang Me-Udeng Poleng itu telah memantik publik untuk mengenalnya secara utuh. Ditemui di rumahnya di Sanur awal pekan ini, Arjaya didampingi istrinya Wawa Lin Arjaya, SE. Msi menerima wartawan Pos Bali dengan penampilan yang sangat sederhana, jauh dari atribut sebagi seorang politisi besar di Bali. Dalam suasana santai, pak Poleng bertutur banyak kisah mengenai Filosofi Udeng Poleng-nya, perjalanan politiknya yang dramatis dan heroik, hingga pilihan politik terbarunya untuk maju sebagai calon anggota DPD.
Read more ...

Hari Imam Wahyudi,S.Psi.,Psikolog,Cht

Psikologi; Seni Tentang Prilaku Manusia

SENYUMAN ramah terpancar dari wajahnya, ketika dikunjungi Pos Bali beberapa waktu lalu. Dengan penuh kehangatan ia memperkenalkan kedua putra dan istrinya, yang sore itu menemaninya bekerja.

Ia adalah Hari Imam Wahyudi, seorang psikolog yang sukses meniti karir. Bukan hanya di bidang psikologi, ia ternyata pernah menggeluti dunia seni, khususnya seni lukis. Jiwa seni itulah yang kemudian membentuk pribadi Hari menjadi seoarng yang peka terhadap situasi sekitarnya. Seni lukis juga yang menjadikannya seperti sekarang, psikolog.

“Apa yang saya dapatkan hari ini, tentu saja tidak terlepas dari berbagai pengalaman masa lalu saya. Saya menyukai seni lukis dan saya sekarang dikenal sebagai psikolog. Dua sisi mata uang, yang melengkapi satu sama lain,” katanya membuka pembicaraan.

Hari menyadari, persoalan seni berkaitan dengan persoalan manusia. Psikologi merupakan seni tentang prilaku manusia. Memahami perilaku manusia merupakan bagian dari seni. “Seni itu keindahan,” katanya.

Dalam menjalani profesinya sebagai seorang psikolog, Hari banyak mendapatkan pengalaman berharga. Pengalaman-pengalaman itu diakuinya sebagai bentuk proses penyempurnaan terhadap ilmu yang sudah dipelajarinya. Dari pengalaman-pengalam itu, ia menyadari banyak persoalan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Kadangkala, persoalan itu tidak bisa diselesaikan sendiri sehingga butuh pihak lain seperti halnya seorang psikolog.

Ia mengisahkan, suatu ketika ia pernah menangani klien seorang remaja. Remaja tersebut menderita gagap dan sangat sulit diajak berkomunikasi. Setelah mengumpulkan banyak informasi, ia akhirnya mengetahui jika gagap yang diderita kliennya tersebut bukanlah cacat bawaan lahir melainkan karena merasa tertekan.

Sebagai seorang psikolog, tugasnya bukanlah mencari dakwaan atas kasus yang dialami kliennya. Ia menjadi penengah yang mencari penyebab sekaligus solusi. Baik anak tersebut maupun kedua orang tuanya perlu ditangani, sebagai bentuk pemecahan masalah. Setelah ditangani sesuai dengan prosedur, remaja tersebut kemudian pulih. Baginya, “Kesembuhan” setiap klien merupakan puncak kepuasan. “Kalau klien itu sembuh, saya merasa satu tugas saya sudah terselesaikan dengan baik,” ujarnya sambi tertawa.

Experientia Est Optima Rerum Magistra

“Pengalaman adalah guru yang baik,” ujar ayah dua anak ini. Pengalaman adalah proses penyempurnaan ilmu pengetahuan sekaligus pendewasaan diri. Pengalaman bersumber dari banyak hal. Baik kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain.

Kasus-kasus yang ditangani Hari, memberi pembelajaran tersendiri baginya. Dari setiap kasus diakuinya selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Salah satu contohnya adalah, ketika seorang remaja yang ditanganinya pulih. Kasus tersebut ternyata memberi pengetahuan baru bagi Hari dalam mendidik dan memperlakukan kedua putranya, yang kini beranjak remaja. “Semua ada manfaatnya, sekalipun itu adalah persoalan besar bagi orang lain,” ujarnya.

Karena banyak menangani kasus anak remaja, Hari bercermin diri melihat kehidupan keluarganya. Memiliki dua putra yang mulai tumbuh remaja, tentu dibarengi dengan persoalan-persoalan seputar remaja. Masa remaja anak-anaknya adalah salah satu proses kehidupan yang perlu diawasi. Tetapi ia menyadari, kehidupan anaknya adalah milik pribadi mereka. “Sebagai orang tua, kita tidak berhak atas kehidupan mereka. Perlu ada batasan dimana kita mesti ikut campur dengan urusan anak-anak dan mana yang tidak perlu,” tuturnya.

Ia menilai, memberikan kebebasan (bukan sebebas-bebasnya) kepada anak-anak memberikan dampak positif pada perkembangannya. Anak-anak perlu dibekali rasa percaya pada kemampuan yang mereka miliki. Dengan begitu, anak-anak merasa bahwa kehadiran mereka diterima dan dengan sendirinya akan muncul rasa tanggung jawab terhadapn diri sendiri dan orang tua. “Saya mengajari hal itu kepada anak-anak, dan mereka siap menerima resiko dari tindakan yang mereka ambil tersebut,” jelasnya diiringi derai tawa.

Sejak mendalami bidang psikologi, pria asal Malang, Jawa Timur ini tak menampik jika dirinya telah mempelajari banyak hal-hal baru. “Banyak sekali yang didapat, bukan hanya materi tetapi lebih kepada pengalaman hidup, yang saya yakin tidak bisa ditukar dan dinilai dalam bentuk materi,” tegasnya.

Tetap Rendah Hati


Sukses meraih karir menjadi seorang psikolog sejak tahu 2007 lalu, tak lantas membuat Hari berbangga diri. Belajar terus dilakukan tanpa mengenal ras puas. Haus akan kesempurnaan ilmu pengetahuan menjadi kunci utama untuk menimbulkan kemauan belajar. Alhasil, karir gemilang akan berjodoh dengan orang yang mau belajar dan memperbaiki kesalahan.

Tetap rendah hati, itulah semboyan yang dipegang teguh olehnya. Pujian-pujian yang diterima hanyalah bonus dari pekerjaan yang digelutinya. Melayani sepenuh hati menjadi kunci utama kepuasan bagi klien. “Kalau bekerja dengan sepenuh hati, maka hasil yang didapat pun tidak mengecewakan,” tuturnya.

Tetap redah hati juga diajarkannya kepada kedua putranya. Warisan yang luhur dan mulai, kata dia, adalah warisan budi pekerti. Warisan bukan hanya persoalan harta. Sebab, harta tidak akan abadi. Tetapi budi pekerti dan sikap yang baik akan dikenang sepanjang hayat. “Kalau kita tanamkan kebaikan, saya yakin itulah yang akan kita tunai. Saya percaya itu,” ujarnya penuh keyakinan.

Hari Dimata Keluarga

Ni Made Trisna Susanti,S.Psi., Psikolog, Ch,.CHt, mengenal sosok Hari sejak dibangku kuliah. Ia mengenal Hari sebagai sosok yang lembut sekaligus tegas, bertanggungjawab, dan juga cerdas. Hari adalah orang yang menyenangkan.

Selama 17 tahun menjalani hidup sebagai sepasang suami istri, Trisna Susanti masih melihat Hari sebagai Hari yang dulu saat masih kuliah. Tidak ada hal-hal mencolok yang berubah setelah menikah. “Masih begini ya, dari dulu saya masih melihatnya saat ini,” ujar Trisna Susanti.

Selain sebagai seorang suami, Hari dan Trisna Susanti menjadi rekan kerja dalam bidang yang sama. Hal ini membuat keduanya selalu dekat satu sama lain. Profesi yang sama menjadikan keduanya lebih mengerti satu sama lain. Pada titi ini, baik Hari maupun Trisna Susanti seringkali menjadikan pasangan masing-masing sebagai sahabat.

Trisna Susanti mengakui, ketika Hari bertugas keluar kota dalam jangka waktu yang cukup lama, sering membuatnya rindu. Saat-saat seperti itu, kedua putranya menjadi penghibur. “Kadang kalau saya mulai galau, saat bapak (Hari-red) tidak ada dirumah, anak-anak tahu itu dan mereka yang menghibur saya,” katanya.

Jika Trisna Susanti melihat Hari sebagai sosok yang menyenangkan, kedua putranya Rachmandian Haryasaka dan Ferdian Harya Muhamad melihat ayahnya sebagai seorang idola. Sosok Hari memberi inspirasi tersendiri bagi kedua putranya. “Bangga kok punya ayah seperti ayah Hari,” ucap Rachmandian Haryasaka.

Disinggung apakah keduanya akan mengikuti kedua jejak orangtuanya untuk mendalami bidang psikologi, baik Rachman maupun Ferdian tampak tersipu. Keduanya mengaku saat ini belum tertarik untuk mendalami bidang yang membesarkan nama kedua orangtuanya. “Nanti dulu deh, sekarang masih belum kepikiran,” kata Rachman.

Senada dengan kedua putranya, Hari menjelaskan saat ini kedua putranya masih tertarik dengan bidang-bidang yang masih sebatas hobby saja. “Kalau yang sulung (Rachman-red) masih tertarik dengan skateboard, sedangkan adiknya (Ferdian-red) sekarang tertarik dengan dunia militer. Belum tahu kedepannya seperti apa,” jelas Hari. Atra Senudin

Pelukis yang Jadi Psikolog

Hari Imam Wahyudi, pernah mendalami bidang seni lukis sejak masih dibangku SMA. Kecintaannya pada seni lukis memberinya prestasi sebagai karya lukis terbaik tingkat kecamatan, dikampung halamannya, Malang Jawa Timur. Prestasi tersebut ternyata menjadi pemicu untuknya melangkah terus mendalami bisang seni.

Saat ia masih duduk di bangku SMA, dukungan keluarga terhadap bakatnya sebagai seniman lukis ternyata begitu besar. Ia bahkan diberikan pilihan untuk mencari kampus yang khusus belajar tentang seni lukis.

Setelah tamat SMA, Hari sempat dilema untuk mencari kampus yang betul-betul mendalami seni lukis. Saat itu, ia bahkan sempat ditawari untuk menjadi guru seni lukis. Tetapi dalam benaknya, ia hanya ingin menjadi seniman lukis bukan guru seni lukis. Karenanya, tawaran tersebut ditolak.

Sayangnya, sebelum mendapatkan kampus yang mendalami dunia seni lukis, Hari diterpa suatu kenyataan pahit. Situasi membuatnya harus beralih untuk meninggalkan mimpinya sebagai seorang seniman lukis. Saat itu, suatu kenyataan yang tidak bisa ditampik adalah pandangan masyarakat luas tentang seniman.

Menjadi seniman, itu artinya tidak menjanjikan. Penghasilan tidak tetap dan jumlahnya sangat kecil. Ketika itu, seniman belum dikategorikan sebagai sebuah profesi yang menghidupkan. Menjadi seniman berarti rela menjadi miskin. Pandangan itulah kemudian yang menyisahkan dilema bagi Hari.

Hasilnya, ia kemudian meninggalkan dunia seni lukis yang menjadi cita-citanya saat itu. Memilih untuk mendalami dunia psikologi bukan persoalan muda. Sebelum mendalami dunia psikologi, hari sempat ditawari untuk kuliah dibidang hukum. Saat itu, fakultas hukum sangat diminati banyak orang. Tetapi realitas yang terjadi adalah banyak lulusan sarjana hukum saat itu belum mendapatkan pekerjaan. Krisi itulah yang membulatkan tekadnya untuk mencari fakultas yang terbilang masih langka.

Hingga suatu saat, seorang saudara Hari yang juga mendalami bidang psikologi memberikan petunjuk dan gambaran jelas tentang dunia psikologi. Gambaran tersebut bukan hanya membuka wawasannya melainkan beralih menjadi sebuah tawaran yang menyenangkan. Psikologi dan seni tidak terlepas satu sama lain, karena keduanya berbicara soal manusia. “Saya tertarik dengan dunia psikologi karena dunia seni yang saya dalami tidak semuanya dicampakan begitu saja,” ujarnya.

Karena dunia seni dan psikologi masih memiliki korelasi, ia kemudian memilih untuk mendalami bidang psikologi. Lambat laun, ia mulai belajar banyak tentang kehidupan manusia sambil sesekali menyalurkan hobbynya dalam bidang seni lukis. Kedua bidang tersebut berjalan beriringan satu sama lainnya.Selama menjadi mahasiswa, Hari juga aktif diberbagai organisasi kampus. Haus akan pengalaman baru dan pengetahuan membuatnya tidak pernah lelah belajar.

Ketika kemudian lulus menjadi seorang psikolog, Hari tidak langsung terjun ke lapangan untuk mempraktekan ilmunya. Ia bahkan pernah menjadi pegawai PT. Federal International Finance (member of Astra International Tbk), mulai dari Surveyor (1997 – 2000), Representatif Head (2000 – 2003), Representatif Head (2000 – 2003), Representatif Head (2000 – 2003), Branch Manager (2003 – 2006), Officer Head Office (2006 – 2007).

Bagi hari, setiap tahap dalam pekerjaannya merupakan ujian kemampuan dan kualitas diri. Jika karir beranjak naik, maka bisa dipastikan jika kualitas diri juga mengalami peningkatan. Karenanya, setelah mencapai puncak kariri menjadi Officer Head Office, Hari memilih untuk meninggalkan pekerjaannya tersebut. Ia kemudian mulai menjadi seorang psikolog, mempraktekan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya.

Pada tahun 2007, Hari kemudian mendalami bidang psikologi dengan serius. Ia mendalami beberapa ilmu baru seperti hypnoterapi. Ilmu tersebutlah yang menunjang kehidupannya saat ini. “Apa yang kita pelajari, pasti akan bermanfaat untuk kita, sekarang ataupun nanti,” ujarnya.

Saat sudah berhasil meniti karir sebagai seorang psikolog, Hari kini mulai memiliki banyak waktu untuk kembali menyalurkan bakatnya, seni lukis. Meski tidak melukis seperti dulu, Hari mengaku saat ini sering menikmati karya-karya lukisan. “Seni lukis itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja,”akunya.

Meski tidak melukis menggunakan kuas dan kanvas, saat ini Hari lebih tertarik untuk mendalami fotografi. Fotorgrafi dinilainya lebih mudah dan memberikan keleluasaan bagi penggemarnya. “Kalau fotografi kan, ada obyek yang bagus langsung di jepret aja,” katanya sambil tertawa.

Seni lukis, Psikolog, dan fotorgarafi, baginya adalah seni. Ketiganya adalah keindahan. Mendalami ketiga bidang tersebut merupakan salah satu cara untuk mengasah kepekaan. “Dari ketiga bisang tersebut, memang tidak semuanya menghasilkan materi. Tetapi kepuasan dan kebahagian yang didapat melebihi materi,” tuturnya santai. Atra Senudin

BIODATA
Nama : Hari Imam Wahyudi, S.Psi., Psikolog, Ch., CHt.
Panggilan : Hari
TTL : Malang, 26 Oktober 1971
Pendidikan : Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang 1989
Istri : Ni Made Trisna Susanti, S.Psi., Psikolog, Ch,. CHt.
Anak : 1. Rachmandian Haryasaka  2. Ferdian Harya Muhamad
Alamat : Jalan Palapa XI, Perumahan Griya Palapa Mas Kav.9, Sesetan, Denpasar.
Read more ...

Arry Subiakto, Kerja Itu Membebaskan

Sekilas, ia tampak biasa-biasa saja. Cara bicaranya yang santai memberi kesan akrab ketika pertama kali bertemu dengannya. Sesekali ia melemparkan candaan yang membuat siapun tertawa terpingkal-pingkal. Baginya, dengan tertawa orang bisa merasa bahagia sekaligus melerai beban kerja dan tanggung jawab yang melekat dalam dirinya.

Ia adalah Arry Subiakto yang sukses menjabat sebagai Branch Manager di PT.Bumen Redja Abadi. Baginya, bekerja itu membebaskan. Bukan saja membebaskan dari jeratan kondisi ekonomi, bekerja itu tanda kebebasan. Dengan bekerja, seseorang mengaktifkan daya, rasa dan pikiran yang kreatif dalam diri. Dengan bekerja, seseorang bisa menggapai impian dan cita-citanya.

“Ya, saya sangat percaya itu. Dengan bekerja, kita dengan mudah menggapai apa yang sudah diimpikan. Kalau kita yang bekerja, maka kita sendiri yang menentukan kemana arah yang kita tuju dan target apa yang penting dicapai,” katanya.

Selama bertahun-tahun bekerja dalam banyak bidang, Arry mengaku menjalaninya dengan santai. Ambisi jauh dari pikirannya. Sebab, pribadi yang ambisius sering membuat orang lupa diri dan mencari-cari cara untuk bisa mencapai ambisinya. “Tidak perlu terlalu ambisi, tetapi perlu ada target. Karena sudah menjadi sifat alamiah manusia ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktu,”ujarnya.

Sejak tahun 1998, Arry sudah mulai menggeluti bidang managerial pada perusahaan otomotif. Dengan perlahan tapi pasti, banyak ilmu yang diserapnya. Ilmu itulah yang kemudian menjadikan dasar perjalanan karirnya hingga berhasil menempati jabatan Branch Manager. “Hal-hal yang saya dapat ketika pertama kali saya dapatkan ketika bergabung dalam diperusahaan otomotif ternyata sangat bermanfaat hingga saat ini,” tuturnya.

Arry memulai karirnya menjadi seorang sales Astra Toyota. Setelah genap setahun, ia kemudian naik jabatan menjadi supervisor, yang juga hanya setahun digelutinya. “Karena bos-bos saya lihat saya memiliki kemampuan, sehingga perlu diberi kepercayaan yang lebih besar,” ujarnya. Jabatan sebagai serorang supervisor memberinya pengalaman akan betapa pentingnya ketelitian dan detail dalam sebuah pekerjaan. “Kerja itu termasuk seni, dan seni itu ada dalam detail-detailnya”, imbuhnya.

Sukses menjadi supervisor di Astra Toyota, tidak disangka-sangka PT.Sri Kandi Diamond Indah Motor menawarkannya posisi yang strategis sebagai branch manager. Meski diakuinya sempat dilema untuk menerima tawaran tersebut, Arry kemudian yakin menerimanya. Baginya tawaran ini adalah kesempatan dan kepercayaan akan kemampuan. Ia percaya kesempatan yang sama tidak akan terjadi dua kali, sehingga harus mengambil keputusan. “Memang dilema, tetapi saya yakin bahwa ini kepercayaan dan saya harus menguji diri saya sendiri sejauh mana saya mampu,” katanya.

Setelah empat tahun menjabat sebagai branch manager di PT.Sri Kandi Diamond Indah Motor, pria asal Surabaya ini kemudian mendapat tawaran dengan jabatan yang sama dari PT.Sun Star Motor cabang Surabaya. Lantas, tawaran itu kembali diterimanya dengan keyakinan bisa memberikan yang terbaik bagi perusahan “baru” tersebut. Ia kemudian bertahan selama hampir 13 tahun, sebelum akhirnya pindah ke PT.Bumen Redja Abadi, dengan menempati jabatan yang sama, yakni sebagai branch manager.

Meski sering berpindah-pindah perusahaan, Arry mengaku tidak pernah merasa tertekan. Baginya, hidup itu indah untuk dijalani dan life is full of surprise. Dari semua itu,nilai yang ia pegang adalah selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya. Sebab, hanya dengan bekerja ia merasa bebas.

Jelajahi Banyak Kota

Selama bekerja pada beberapa perusahaan otomotif, Ary sudah menjelajahi banyak kota di Indonesia. Dalam setiap penjelajahannya, ia terus mendapatkan hal-hal baru, yang semakin mendewasakan pengalaman yang dimilikinya. Baginya, hidup itu seperti sebuah penjelajahan. Ia menjelajah dari satu kota ke kota lain; dari satu pengalaman ke pengelaman lain. Dalam sebuah perjalan, hidup selalu ditambahkan dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang baru.

Sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Bali dan menjadi branch manager di PT.Bumen Redja Abadi, ia sempat menjelajahi kota-kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Malang, Mojokerto, Probolinggo, Kudus, dan Semarang. Setiap kota memiliki cerita tersendiri. ”Dari banyakkota itu saya mendapatkan begitu banyak hal. Teman, pengalaman, hingga pelajaran hidup yang memang betul-betul berharga,”tuturnya. Sekecil apa pun pengalaman itu, ia syukuri sebagai pelajaran akan hidup yang lebih baik dan lebih baik lagi. Ia pun selalu berusaha menjaga relasi pertemanan dan mengais ilmu dalam setiap pengalaman itu.

Karena berpindah-pindah kota, Arry kemudian memahami karakter manusia dari segi kebudayaannya. Karena sering berpindah-pindah juga ia dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan dimana pun ia berada. Karakternya yang humoris dan santai, diakuinya sangat membantu dalam proses sosialisasi dengan masyarakat lain.

Time Flies, But Not Memory

“Pengalaman itu adalah guru yang baik, dan saya percaya itu. karena dengan pengalaman kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik setiap harinya,” tegasnya.

Pengalaman berpindah-pindah tempat kerja memberinya satu pelajaran berharga. Bahwa relasi antara karyawan dan atasan perlu didasari dengan kepercayaan. Selain kepercayaan, keduanya harus tetap menjaga jarak dan tidak perlu terlalu dekat. Alasannya sederhana, agar keduanya bisa saling menghargai dan menghormati dalam konteks sebagai sesama manusia bukan jabatan.

Arry menerapkan hal tersebut dalam pekerjaannya. Ia percaya, semua karyawannya berusaha memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya, seperti halnya dirinya. “Saya berkeyakinan seperti itu saja. toh kalau ada yang main-main bekerja, dengan sendirinya akan tergeser,”katanya santai sembari menambahkan, beberapa perusahaan sebelumnya juga menunjukan isyarat seperti yang diakuinya.

Dari berbagai pengalaaman yang sudah didapatkannya, Arry kemudian berusaha untuk mempertahankan setiap nilai positifnya. Sedangkan hal-hal yang dianggap negatif akan diubahnya. Pengalaman tak ayal adalah guru, dan pelajaran itu seringkali berharga untuk dipelajari dan dalami.

Ia mengisahkan, dilema dalam setiap keputusan ketika hendak berpindah tempat kerja adalah juga pengalaman yang baik. Saat itu, ia terbentur pada pilihan hidup yakni bertahan untuk mengabdi, atau pindah untuk memperbaiki kualitas hidup. Dua pilihan yang cukup berat untuk diputuskan.

Bertahan mengabdi berarti sebuah kebaikan dan keteguhan hati untuk setia pada apa yang telah dirintis. Bertahan berarti mengerahkan semua energi untuk terus berusaha mencari inovasi. Dan pahalanya tentu saja lebih baik.

Pilihan kedua, pindah untuk memperbaiki kualitas hidup tentu secara seerhana dapat dikatakan pilihan yang cukup egois. Tetapi pilihan itu adalah penentu kehidupan dimasa yang akan datang. Pilihan itulah yanag akan merubah banyak hal dalam hidupnya.

Karena menyukai tantangan, Arry kemudian memutuskaan pilihan pertama sebagai caranya untuk terus memperbaiki hidup.”Tidak akan maju kalau kita hanya disitu-situ saja. Untuk bisa mendapatkan hal-hal baru, kita harus keluar dari area yang sudah membuat kita nyaman,”ucapnya. Baginya, zona aman kehidupan hanya akan membuat seseorang tidak bisa berbuat baik bagi orang lain dan justru mematikan pontesi-potensi kreatif yang ada dalam diri. Arry mengatakan, keluar dari zona aman berarti hidup, sebab hidup yang benar adalah hidup yang mau diuji dan mau mengenal banyak hal. Waktu memang berlalu, tetapi setiap ujian atau tantangan hidup selalu melahirkan permata kenangan dan pelajaran untuk memupuk kualitas hidup yang lebih baik.

Kuriositas

Memiliki rasa ingin tahu yang besar, tidak gampang menyerah, dan selalu mau mendalami hal-hal baru, sangat lekat dalam jiwa seorang Arry Subiakto. Kemauannya untuk selalu memberikan yang terbaik dalam setiap keputusan adalah dasar dari setiap pilihannya. Sejak tahun 2013, ia akhirnya memutuskan untuk menetap di Bali. Keputusan tersebut diambilnya atas dasar kemauan untuk mengetahui banyak hal.

Arry Subiakto sangat menyadari bahwa dirinya akan cepat merasa bosan dengan segala pekerjaan rutinitas. Ia lebih senang untuk berinteraksi dengan banyak orang dan membagikan ilmu yang telah didapatnya kepada orang lain. Satu yang paling disadarinya adalah menolong orang. Baginya, untuk bisa menolong orang, seseorang harus bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Untuk bisa berbagi, ia harus sudah mapan dalam pengalaman, ilmu dan mental.

Sementara itu, dirinya tidak lagi bergelut dengan urusan teknis, tetapi berurusan dengan keputusan yang menyangkut roda perusahaan. Di situ, dituntut kebijaksanaan dan progresivitas perusahaan. Pengetahuan dan pengalamannya membantu dirinya untuk mengambil setiap keputusan. Oleh Karenanya, Arry selalu mau belajar dan mau menimba pengetahuan dari orang lain. Baginya, setiap orang memiliki pengetahuan dan karakter yang unik dan itu sangat penting untuk membantu sebagai bekal untuk meraih kesuksesan bersama perusahaan yang ia pimpim.

Berpikir Maju

Dengan jujur, pria asal Surabaya ini mengaku jika perjalanan karirnya hingga saat ini tidak mudah. Berbagai rintangan datang silih berganti. Tetapi, setiap rintangan itu disyukurinya dan dianggap sebagai ujian. Ketika ia sanggup menjalaninya, maka ia akan naik pada level yang baru. Dan jika semua rintangan bisa diatasi dan dijalani dengan baik, maka sudah pasti seseorang akan menjadi pribadi yang bisa mensyukuri segala sesuatu. Dalam benaknya selalu tertanam kemauan untuk berpikir maju.

Lahir sebagai anak bungsu laki-laki, tidak menjadikannya pribadi yang manja. Sejak kecil, sosok sang ayah mengajarinya menjadi pribadi yang giat bekerja. Satu prinsip yang didapatnya dari sang ayah, yakni menjadi laki-laki harus bisa menjamin kehidupan yang layak bagi istri dan anak. Porsi kerja laki-laki harus lebih banyak ketimbang seorang perempuan. Karena, perempuan secara kodrati memiliki tanggung jawab untuk mengandung dan melahirkan. Atas kenangan dari ayahnya itu, ia kemudian dibentuk menjadi pribadi yang selalu giat bekerja dan selalu mau maju dalam berkarir.

Kedua orangtuanya sudah meninggal dan Arry semakin giat bekerja. Dan, Baginya, di balik setiap kesuskesan selalu ada orang lain yang dukungan dan cinta.Kesuksesan yang diraihnya saat ini adalah berkat campur tangan Yang Maha Esa dan keluarganya. “Mereka yang selalu mendukung saya untuk terus maju dan berusaha memberikan yang terbaik dimanapun saya berada”.Atra Senudin
Read more ...

Dodi Dikaryawan, General Manager PT. Mobil Nasional Intim

Humanisme Seorang Pemimpin

Senyum meniadakan batas dalam setiap perjumpaan. Keramahan mengalir di seantero ruangan. Kebekuan pecah di ujung ucapan selamat datang. Seperti itulah gambaran suasana pertemuan Pos Bali ketika berkunjung ke tempat Dodi Dikaryawan, General Manager PT. Mobil Nasional Intim. Dodi, begitu ia disapa, merupakan sosok yang ramah. Atas keramahan itu, kesan persahabatan selalu melekat pada setiap perjumpaan.

Sebagai seorang General Manager, Dodi adalah seorang pemimpin. Ia bertanggung jawab atas roda perusahaan otomotif KIA di wilayah Bali, NTB dan NTT. Tanggung jawab ini diembannya dengan penuh dedikasi yang tinggi. Sebagai seorang pemimpin, ia memimpin dirinya sendirinya sendiri dengan karakter dan talenta. Semuanya itu membentuk pribadinya yang profesional dalam bekerja.

Profesionalitas kerja pria kelahiran 26 Agustus 1965 ini telah dimulainya sejak berkerja sebagai internal audit pada PT. BPR Arthawira, Jember, pada tahun 1990. Dodi mulai tertarik menekuni karir pada bidang otomotif sejak menjadi salesman, sales counter dan surveyor di PT. Indotrisaka Sejati Motor (Authorized Suzuki R2 Dealers Area Ex Kars Besuki) pada tahun 1992. Profesionalitas dan etos kerja membuat Dodi mampu menapaki karir dengan baik.

Dalam karirnya di dunia perusahaan otomotif, Dodi sangat menikmati kerjanya di bagian manajemen khususnya bidang marketing. Baginya, dunia marketing adalah dunia bersosialisasi dengan manusia lain. Di situ, ia bisa berinteraksi dengan orang lain dan juga budaya lain dari berbagai daerah. Selain sebagai perkerjaan untuk menembus pangsa pasar otomotif, dunia marketing memberinya banyak pengalaman dan pelajaran tentang hidup. Baginya, setiap perbedaan merupakan kekayaan bangsa, dan toleransi merupakan bahasa yang indah dalam setiap perbedaan itu.

Pada tahun 2000, Dodi mendapat amanah perusahaan sebagai General Manager. Baginya, setiap jejang karir dan jabatan adalah kepercayaan. Setiap kepercayaan berarti tanggung jawab. Dodi mengemban tanggung jawab itu dengan penuh kerja keras dan senang hati. Kecintaannya pada pekerjaannya membuatnya sangat bahagia dan merasa bebas. Baginya, kerja itu punya tujuan. Selaian sebagai aktualisasi diri, kerja itu sendiri adalah tanda kehidupan. Pekerjaannya membuat ia semakin mencintai kehidupan.

Komunikasi Humanis

Soal kepemimpinan adalah soal tanggung jawab terhadap perusahaan dan semua orang yang menjadi bagian dari perushaan. Tanggung jawab itu menjadi semakin berat tanpa komunikasi. Karenanya, alumnus jurusan Manajemen Universitas Brawijaya Malang ini selalu berusaha membangun komunikasi yang baik dengan setiap orang yang menjadi bagian dari perusahaan. Atasan, karyawan, dan customer selalu diajaknya berbicara. Semua itu dilakukan demi kebaikan dan sinergisitas perusahaan.

Bagi Dodi, kebuntuan dan kesalahpahaman berawal dari putusnya jalinan komunikasi. Dan, hal itu akan berakibat fatal bagi bagi perusahaan termasuk dirinya sendiri, atasan, karyawan dan konsumen. Baginya, komunikasi merupakan sesuatu yang penting dalam tanggung jawab sebagai pemimpin. Dengan komunikasi yang baik ia bisa memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik.

Sebagai seorang pemimpin, Dodi selalu mengedepankan komunikasi yang humanis, komunikasi yang berwajah kemanusiaan. Ia selalu memandang setiap orang yang bekerja pada perusahaan yang dipimpinnya sebagai manusia yang sama seperti dirinya. Semuanya sama. Jabatan hirarkis dalam perusahaan hanyalah merupakan perbedaan tanggung jawab, keahlian dan pengalaman. Bagi Dodi, komunikasi yang humanis berjalan seiring sikap saling menghargai setiap perbedaan itu.

Seseorang yang gila hormat tidak pantas untuk jadi pemimpin. Baginya, sesuatu yang lebih berharga dalam kepemimpinan adalah jika pemimpin dekat dengan semua karyawan. Ia mengenal karyawannya, dan karyawan mengenali pemimpinnya. Rasa saling hormat akan terjadi dengan sendirinya dalam proses ini.

Dengan karyawan, ia mengedepankan pendekatan yang manusiawi. Setiap persoalan kinerja karyawan selalu diselesaikannya dengan komunikasi yang humanis. Sebab, karyawan merupakan bagian yang sangat penting dalam perusahaan. Karenannya, kedekatan pemimpin dan karyawan sangat penting baginya.

Selain itu, menurut Dodi, aturan, etika perusahaan dan sopan santun merupakan bahasa komunikatif yang perlu dipahami oleh setiap karyawan. Sebab, baginya, hal itu akan membangun relasi kerja humanis dalam perusahaan sekaligus demi terwujudnya sistem kerja yang profesional. Menurutnya, dengan komunikasi yang humanis setiap pekerja akan meresa merdeka dalam melakukan pekerjaannya. Di situ akan ada semangat dan dedikasi.

Neraca Kesuksesan

Kesusksesan selalu menjadi takaran yang subjektif. Setiap orang memiliki ukurannya sendiri dalam mendefenisikan sebuah kesusksesan. Dan ukuran kesuksesan bagi setiap orang seringkali berbeda.

Bagi Dodi, kesuksesan adalah ketika ia mampu bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, bahagia, dan berkecukupan. Kesuksesan bukan semata-semata hanya persoalan materi belaka. Semua kelimpahan materi tidak akan menjadi apa-apa jika semua tidak melahirkan rasa kahabagiaan dalam diri dan orang sekitar. Meski tidak bisa dipungkiri, materi yang berkecukupan menunjang kebahagiaan hidup seseorang. Baginya, kekayaan materi bukanlah tujuan sebuah kebahagiaan.

Selain itu, dodi juga mendefiniskan kesuksesan adalah ketika ia mampu menggapai setiap mimpi yang selalu ada dalam dirinya. Mimpi-mimpi itu menjadi bagian dari alasan dirinya untuk tetap bekerja tekun dan penuh dedikasi. Baginya, dalam setiap mimpi itu selalu tersirat harapan. Harapan untuk menjadi lebih berarti bagi diri sendiri dan orang lain, setidaknya bagi keluarga yang ia cintai. “Tidak semua mimpi yang kita impikan bisa tercapai. Tetapi, dari mimpi-mimpi itu harus ada yang dicapai,” katanya.

Dukungan Keluarga

Di balik semua kesuksesan, selalu ada keluarga yang hadir dan mencintai. Demikianlah Dodi yang selalu mendapat dukungan dan perhatian sebagai bahasa cinta yang tulus dari keluarganya. Bagi Dodi, dukungan istri dan anak-anaknya sangat berarti bagi kehidupan dan karirnya. Istri dan anak-anaknya menjadi tempat kembali untuk berbagi kebahagiaan. Ia sangat mencintai istri dan anak-anaknya sebab ia mendapat tempat yang mulia dalam kehidupan istri dan anak-anaknya.

Sebagai seorang ayah, Dodi bersama istrinya mendidik anak-anaknya untuk menjadi manusia yang berbakti dan berguna bagi orang lain. Baginya, anak-anak adalah liontin pada rantai kebahagiaan keluarga. Ketiga buah hatinya yang hadir dalam bangunan rumah tangganya selalu menjadi inspirasi sekaligus rahmat yang selalu ia syukuri.

“Saya bersyukur bahwa keluarga sangat memahami dunia kerja saya, dan mereka selalu memberi dukungan. Saya menyadari, dukungan keluarga dalam setiap perjalanan karir saya adalah rahmat. Sebab, dukungan dan kepercayaan mereka membuat saya bekerja dengan tenang,” kisahnya. Atra Senudin
Read more ...

Ir. I Gusti Ketut Puriartha, Ketua DPC Partai Gerindra Badung

Masyarakat Harus Dilibatkan Dalam Penyusunan Perda 

GUS Korbo, demikian ia dipanggil oleh teman-teman sejawatnya. Padahal nama aslinya I Gusti Ketut Puriartha. Pria yanglahir di Badung 23 Pebruari 1965 dikenal sebagai sosok yang bersahaja serta mudah bergaul meskipun kepada orang yang baru dikenalnya. Selain mudah bergaul Gus Korbo gemar menyusuri daerah-daerah terpincil khususnya di Pulau Bali. Tak ada satupun tempat yang terasa asing baginya, dan dalam waktu singkat ia bisa menyesuaikan diri dengan tempat tersebut. Maklum dia gemar bepergian.

Karena kegemaranya dalam bepergian, Gus Krobo memiliki banyak teman dan pengalaman. Baginya memiliki banyak teman dengan segudang pengalaman merupakan sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya.Gusti Puriartha adalah lulusan Insinyur Pertanian Universitas Udayana tahun 1984. Pada masa kuliah ia selalu aktif dalam berbagai organisasi hingga mengadakan berbagai kegiatan, terutama yang berkaitan dengan pertanian, sosial, budaya dan politik.

Ia juga menjadi salah satu penggerak dan sangat aktif dalam pergerakan diskusi jalanan Forum Merah Putih pada era 90-an. Kendati pada saat itu pemerintah sangat anti kritik, namun ia tetap bergerilia mengadakan diskusi dengan tempat yang berpindah pindah dari satu tempat ketampat yang lain. Atau dari satu rumahkerumah teman yang lain. Bahkan, dia bersama teman-teman seperjuangannya sesekali diskusi di pinggir jalan.“Jika saja pada waktu itu, kita diciduk sudah pastilah hari-hari selanjutnya berada di dalam bui,” kenang ayah satu anak itu.

Diskusi rutin dilakukan bersama kawan-kawan, bahkan berlanjut sampai ia berhasil menyelasaikan studi S1. Itu merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai kaum intelektual kendati dengan cara yang diam-diam karena penguasa saat itu sangat tidak mungkin untuk dikritik. “Masa kekuasan Orde Baru hampir tidak mungkin untuk dikritik apalagi dilawan. Apalah artinya kami, sekumpulan anak muda yang tidak memiliki koneksi kekuasan,” katanya.

Gus Krobo yang juga merupakan salah seorang Pendiri Yayasan Manikaya Kauci di tahun 1992 yang bergerak di bidang lingkungan, dimana pergerakan dan kegiatan diskusilah sebagai salah satu embrio untuk membentuk satu lembaga yang permanen, berbadan hukum dan jelas sasaran pergerakannya. Namun seriring perjalanan Yayasan Manikaya Kauci tidak hanya bergerak di bidang lingkungan semata, akan tetapi juga merambah di bidang sosial dan politik terutama dan yang tak kalah pentingnya ialah pemberdayaan masyarakat sipil.

Selama puluhan tahun suami dari seorang aktivis advokasi IGA Raniti ini, membangun Yayasan Manikaya Kauci bersama para sahabatnya dengan tekun dan berkesinambungan melakukan pendampingan, advokasi pemberdayaan dan langkah-langkah menuju kemandirian produksi desa-desa se-Bali. Salah satu program yang dilaksanakan yang kemudian menampakan hasil ialah pemberdayaan dan penguatan masyarakat adat, kemandirian di sektor pertanian dan penataan administrasi sederhana.

Terjun ke dunia Politik

Sebagai seorang yang telah matang di dalam organisasi, anak dari pasangan I Gusti Putu Purya (alm) dan Ni Ketut Sukartini ini memutuskan untuk terjun ke dunia politik tanpa meninggalkan organisasi yang telah dirintisnya. Keputusanya untuk terjun ke dunia politik bukan tanpa alasan. Reformasi yang didambakan oleh kaum inteletual, generasi muda dan rakyat banyak yang sangat jauh menyimpang dari cita-cita yang sesunguhnya. Belum lagi berbagai tindakan tak terpuji serta ancaman keutuhan bangsa karena banyaknya kasus sosial yang menjurus pada SARA (Suku, adat, Ras dan Agama).

Kenyataan tersebutlah yang membawa Gus Krobo untuk masuk dalam politik dan menjadi pengerak perubahan. “Untuk bisa berubah, kita harus berada di pusaran perubahan,” ucapnya. Karena menurtnya jika hanya berada di luar dan mengamati tak banyak yang bisa dikerjakan. Sebab, yang menjadi penentu adalah mereka-meraka yang telah duduk di dalam penentu kebijakan tersebut. Ditegaskanya, keinginan untuk memasuki dunia politik bukan untuk dirinya, melainkan untuk semua menjadi bahagia karena dapat berjalan di atas kebenaran serta kebijakan yang sungguh-sungguh berpihak pada masyarakat luas.

Ketua DPC Partai Gerindra Badung yang juga maju sebagai calon legislatif pada Pileg 9 April lalu, mengaku tetap optimis mengawal aspirasi yang berkembang dimasyarakat kendati belum berkesempatan duduk sebagai anggota dewan Badung sebab Gerindra telah memiliki calon untuk mewakili untuk menyuarakan aspirasi tersebut. Kata dia, berdasarkan petunjuk dari Dewan Pembina Partai, bilamana ada kader yang telah diberikan kesempatan untuk duduk di kursi Dewan namun tidak serius mengurusi nasib rakyat maka akan layangkan surat peringatan pertama sampai pada surat peringatan ketiga. “Kalau ini tidak dijalankan, kita akan lakukan PAW,”tegasnya. Partai juga tidak memberikan toleransi dan segara melakukan pemecatan terhadap kader yang terbukti nyeleweng maupun korupsi. Pihaknya tidak mengingikan mayarakat menjadi kecewa karena ulah salah satu kader.

Lanjut ayah dari IGA Asakirina Cempaka ini, kesadaran politik dan pemberdayaan masyarakat sipil yang telah dibangun sejak awal 1998 sangat penting untuk lakukan terus-menerus dalam rangka partisipasi masyarakat dalam membangun kehidupan demokrasi yang sehat. Berulang kali ia tekankan bahwa berpolitik adalah hak seluruh masyarakat, bahwa politik, demokrasi dan kekuasaan pada akhirnya untuk kesejahteraan warganegara juga.

Menurutnya, masih terjadinya money politics disebabkan kesadaranmasyarakat yang masih minim. Terjadinya hal tersebut bukan semata-mata karena kesalahan masyarakat, sebab elit-elit politik lah yang membuat rakyat tidak cerdas. Kalau itu selalu terjadi, Gus krobo menghawatirkan hal tersebut tidak mampu menghasilkan peminpin yang cerdas dan serius untuk mengurusi rakyat kalau dalam prosesnya saja sudah menggunakan cara yang tidak baik. Untuk itu sudah saatnya pemimpin harus memberikan contoh yang baik kepada masyarakat tentu dengan cara yang baik serta meninggalkan cara-cara yang lama yang dianggap tidak baik dan tidak mendidik.

Menurut Gus Krobo, menjadi sebuah keharusan, setiap rencana maupun penganggaran dan penyusunan Perda harus melibatkan masyarakat di dalamnya. Sebab, bagaimanapun juga setiap perencaan akan bermuara pada masyarakat itu sendiri. “Bagaimana masyarakat bisa tahu kalau tidak terlibat langsung dalam perencanaan tersebut. Jadi apapun itu masyarakat harus dilibatkan,” ucap fasilitastor Pelatihan Found Raising di Jakarta, Lombok, Pekambaru Riau tahun 2002 itu.

Diakuinya, saat ini masyarakat memang sudah dilibatkan, tetapi dalam keterlibatan tersebut hanya sebatas formalitas semata. Yang bisa ditebak elit-elit yang terlibat didalamnya sehingga masih banyak celah untuk manipulasi. Selain itu, pria yang dikenal sangat lugas dan bersahaja itu berencana akan melakukan penelitian dengan mengandeng para profesional peneliti, LSM, para akademisi tentang peraturan daerah (perda) yang telah dihasilkan oleh legislatif maupun eksekutif. Jika dalam penelitian tersebut ditemukan penyimpangan maka akan dikritisi baik dari akdemisi maupun dari partai.

Penelitan tersebut rencanaya akan berkaitan dengan seberapa Perda yang telah ada mengakomodir kepentingan dan kebutuhan rakyat, sehingga perda yang dibuat tidak semata-mata hanya menjadi penghias ruang namun benar-bernar bermanfaat bagi hajat orang banyak. Jangan sampai perda yang telah dibuat tidak bisa diterapkan karena memang kontenya bukan menjadi kebutuhan masyarakat.

Logikanya, kata dia,Perda dibuat bukan semata-mata atas dasar kepentingan penguasa, kepentingan peguasa mengatur rakyat dengan perturan itu sudah sangat jelas. Perda dibuat yang sebesar-bersanya untuk mengatur rakyat agar bisa sejahtera. Namun acapkali terjadi pendekatan Perda itu dengan pendekatan atas dasar kekuasaaan. Rakyat seakan dipaksa harus tunduk pada peraturan tersebut, “Jika tidak maka akan dikenakan sanksi atau pidana,” ucapnya kesal. Dimana Perda dibuat lebih banyak mengingat warganya ketimbang memberikan keluluasaan kepada warganya untuk mempeoroleh kesejahteraanya.

Kajian ini nantinya akan lebih mengkhusus pada Kabupaten Badung sebagai salah satu daerah dengan PAD yang terbesar di Bali. Ia mengakwatirkan banyak Perda yang “nganggur” alias tidak sepenuhnya bisa diterapkan. Jangan sampai ada perda akan tetapi tidak bisa diterapkan karena perda yang dibuat bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat melainkan kebutuhan para penguasa.

Selian itu, isi Perda satu dengan yang lainya harus berkesinambungan, sehingga jangan sampai Perda yang telah dibuat menyimpang jauh dengan undang-undang atau perda yang berada ditingkat lebih tinggi. Karena hal itu sama sekali tidak diperbolehkan, bagaimnapun juga Perda harus tunduk pada Perda yang berada diatasnya.

Colture of Low

Perda yang dibuat semestinya membudaya atau dengan kata lain perda tersebut menjadi culture di tingkat masyarakat dan bagaimana Perda yang ada ini bisa diterima di masyarakat untuk diterapkan. Bahwa setiap Perda yang dibuat harus ada public hearing. Bagaimana melakukan sosialisasi, kemudian bagaimana melakukan studi, perencanaan mendengarkan masukan dari masyarakat. Menurut Gus Krobo hal tersebutlah yang dinilai masih sangat minim dan bahkan hampir tidak ada. Jangan sampai Perda-nya sudah dicabut tetapi rakyat masih taat melakukannya, atau sebaliknya Perdanya sudah baru tetapi rakyat masih menggunakan cara lama, karena kurang sosialisasi.

Diakuinya dalam penyusunan beberapa sudah ada untuk itu, namun hal itu lebih kepada formalitas semata bahkan tokoh yang diundangpun dikhawatirkan adalah tokoh yang memang orang-orang yang sepaham, maka sangat jarang ditemukan pemikiran-pemikiran yang kristis untuk melekapi maupu mengkritis Perda tersebut.

Jika dalam segala hal sudah ada keterlibatan masyakarakat di dalamnya, diharapakan mampu mengurangi celah untuk melakukan kecurangan. “Niat kita untuk melibatkan masyarakat dalam politik modern dan partisipasi masyaratkat menjadi hal yang sangat vital,”jelasnya.

Ketika partisipasi masyarakat meningkat, dan terlibat dalam kontrol terhadap kinerja eksekutif dan legislatif sehingga mereka tidak lagi leluasa “menggarong” uang rakyat. Dengan demikian tidak ada politik investasi ekonomi dan tidak pengembalian modal kampanye. “Pemilu berikutnya mereka akan kapok mengeluarkan uang banyak karena tidak ada pengembalian sebab semua sumber sudah dikentrol oleh masyarakat,” tandasnya.

Namun diakuinya, bukanlah perkara yang mudah untuk mewujudkan itu semua. Tak semudah membalikkan telapak tangan, namun sekali lagi kata dia, itu semua butuh proses dan perjuangan. Untuk itu ia mengaku tetap optimis akan mengarap hal tersebut demi kepentingan bersama. “Kalau kesejahteraan masyarakat sudah meningkat maka tidak akan ada lagi yang hanya memikirkan soal isi perut. Kalau itu sudah terjadi kecerdasan masyarakat dalam memilih pemimpin akan meningkat,” ucap Gus Krobo.

Kedepan ia berharap kepada seluruh parta politik dalam proses rekrutmen dengan cara-cara yang baik dengan melihat track record yang bersangkutan, tidak hanya sekedar berpengaruh dan memiliki banyak uang. Namun juga harus memiliki banyak pengalaman dan cerdas dalam menentukan arah demi terciptanya pemimpin yang brekualitas yang benar-benar memihak pada kebutuhan masyarakat banyak. Alit Sukarta

Biodata

Nama : Ir. I Gusti Ketut Puriartha

Nama panggilan : Gus Krobo

Tempat/Tgl lahir : Badung, 23 Pebruari 1965

Pendidikan terakhir: Insinyur Pertanian (Unud)

Jabatan : Ketua DPC parta Gerindra Badung

Istri : IGA Raniti, SH.

Anak : IGA Asakirina Cempaka

Orang Tua

Ayah : I Gusti Putu Purya (Mangku Desa Kerobokan)

Ibu : NI Ketut Sukarniti (Pensiunan Guru)
Read more ...

Ida Ayu Oka Purnama Wati, SS,MM,

Enterpreneur Adalah Panggilan Jiwa 

Senyuman ramah terpancar dari wajahnya, ketika dikunjungi Pos Bali beberapa waktu lalu. Senyuman itu menjadi menu pembuka untuk menerawang lebih dalam sosok diri yang sesungguhnya. Dan dengan senyuman itulah tergambar jelas bahwa perempuan berusia 44 tahun ini adalah sosok yang rendah hati.

Ia adalah Ida Ayu Oka Purnama Wati, SS,MM, Director of Marketing and Business Development Bali Royal Hospital (BROS). Perempuan dengan segudang prestasi membanggakan dan sosok istri sekaligus ibu yang menyenangkan bagi keluarganya.

Gek Oka, begitu ia kerap disapa, meniti karirnya menjadi sekretaris hotel. Selama menjadi sekretaris, diakuinya ia kerap mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang tentu saja memiliki nilai penting bagi karirnya saat ini. Selama menjadi sekretaris, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik. Alhasil, dalam kurun waktu tiga tahun, ia berhasil menduduki jabatan Customer Service Manager di Five Star Diamond Hotel di Bali.

Setelah menikah dan memiliki anak, Gek Oka kemudian memutuskan berhenti bekerja di hotel. Tetapi, hasrat berkarya tetap mengaliri jiwanya. Karena ia memegang peran sebagai istri sekaligus ibu, Gek Oka kemudian membuka bisnis wedding organizer pada tahun 1999, yang khusus melayani wisatawan asing yang ingin menggelar acara pernikahan di Bali. “Bagi saya, keluarga tetap yang paling utama. Kebahagiaan itu bukan hanya persoalan materi belaka,”ujarnya sambil tersenyum.

Bisnis wedding organizer, ternyata sangat menjanjikan. Ia menyebutnya sebagai bisnis rumahan, karena ia memiliki waktu yang cukup banyak untuk mengurus kedua putranya. Melalui tangan dinginnya, bisnis ini terus melejit dan perlahan merangkak naik. Baginya, profit bukanlah tujuan utama. Tetapi yang paling penting adalah kemampuan yang dimiliki terus diasah dan disalurkan.

Ibu dua anak ini, dengan tegas mengatakan bahwa sejak terjun kedunia kerja ia sangat menyadari, bahwa enterpreneur adalah panggilan jiwa, yang mencakup persoalan sosial dan bersifat humanis. “Bisnis yang saya maksud bukan hanya tentang untung rugi secara materi, tetapi dalam artian luas, bahwa bisnis juga terkait kepekaan jiwa terhadap apa yang terjadi disekitar kita,” tuturnya.

Gebrakan Baru

Sukses menjadi enterpreneur bidang wedding organizer, tak ayal membuat Gek Oka berpuas diri. Lantas, gebrakan baru dalam sejarah hidupnya pun dimulai lagi, yakni merambah bisnis bidang medis. Bersama sang suami yang adalah seorang arsitek dan sang kakak yang adalah seorang dokter, pada tahun 2002 mendirikan Klinik Kesehatan terpadu yang diberi nama Merdeka Medical Centre (MMC). Klinik ini menjadi satu-satunya klinik di Bali dengan konsep memberikan kualitas pelayanan eksklusif.

Pada awal berdirinya klnik MMC, Gek Oka tidak berperan langsung. Meski demikian, ia selalu pandai “mencuri” waktu untuk mempelajari cara mengolah sebuah klinik. Hingga akhirnya pada tahun 2004, ketika sudah merasa mantap ia kemudian aktif di Klinik MMC dan menjabat sebagai Direktur Utama hingga saat ini. Posisi sebagai direktur utama memberikan ruang yang lebih banyak untuk terus mengasah kemampuannya.

Terjun dibidang medis, diakuinya bukanlah hal yang mudah. Apalagi latar belakang pendidikannya yang tidak bersentuhan dengan dunia medis, membuatnya sedikit kewalahan. Tetapi tekad dan kemauan untuk bekerja keras menjadi dasar dan prinsipnya. “Saya bertekad untuk terus belajar, dan itu adalah prinsip saya. Bagi saya, mempelajari apapun itu, tentu akan ada manfaat yang bisa diambil,” tegasnya.

Tekad yang dibangunnya ternyata membuahkan hasil. Hingga saat ini, MMC menjadi satu-satunya klinik terlengkap di Bali. Dengan memiliki 16 dokter spesialis, laboratorium, rontgen, Klinik, apotek dan ambulance 24 jam, UGD, Minor Surgery room dan observation room. Selain itu, MMC juga berhasil menjalin kerjasama dengan 75 perusahaan dari berbagai kalangan seperti perbankan, penerbangan, kontraktor sampai perusahaan pemberangkatan tenaga kerja kapal pesiar. MMC menjadi satu-satunya klinik di Bali yang boleh mengeluarkan PANAMA Book (buku khusus dari Kedutaan Panama bagi calon pelaut).

Dalam mengembangkan MMC, satu hal yang mengesankan bagi Gek Oka adalah ketika klinik ini masuk dalam daftar International Medical Tourism Directory 2011 (pilot) online and in print sebagai high-rated health-oriented places in Indonesia, dan merupakan satu-satunya klinik di Bali. “Disitulah saya semakin membulatkan tekad untuk terus memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan saya, karena saya yakin tidak ada yang sia-sia,” tuturnya.

Experientia Est Optima rerum magistra

“Pengalaman adalah guru yang baik”. Ungkapan itu sangat cocok untuk disematkan bagi perempuan kelahiran Denpasar, 16 October 1970 ini. Pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan dilihatnya menjadi bekal yang baik untuk membangun karirnya. Dengan pengalaman, ia mampu meraih segala yang diimpikannya. Pengalaman sangat berperan penting dalam membentuk karakter pribadinya hari ini.

Sukses mengembangkan Klinik MMC, yang nota bene adalah sebuah klinik rawat jalan, Gek Oka kemudian merambah bidang yang lebih luas dari sekedar klinik, yakni membangun rumah sakit dengan nama Bali Royal Hospital (BROS). Di BROS, Gek Oka menduduki jabatan sebagai wakil direktur utama.

Cita-cita terbesar Gek Oka adalah membawa klinik dan rumah sakit yang dibangunnya menjadi leading hospital di Bali. Ia meyakini, ha itu dapat tercapai karena rumah sakit BROS berbeda dengan rumah sakit lain yang ada di Bali. Untuk menjamin itu, empat pelayanan unggulan menjadi competitive advantage bagi BROS.

Dalam proses “menjadi”, Gek Oka tetap mengedepankan hati nurani. Sisi kemanusiaan tidak dilupakan dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis. Bahkan, bagi mereka yang tidak mampu untuk membayar, ia tidak pernah menuntut. Sebab ia yakin, akan ada orang lain yang memberikan kelebihan atas apa yang dilakukannya.

“Kita boleh mudah dalam hal usia, tetapi haruslah tua dalam pengalaman. Karena disana, kualitas diri itu menunjukan wujudnya,” ungkapnya dengan nada tegas.

Jalani 5 Pekerjaan Sekaligus

“Kehebatan seseorang buka soal berapa banyak pekerjaan yang bisa ia lakukan, tetapi seberapa mampunya ia menjalankan pekerjaan itu dengan baik,” kata Gek Oka ketika ditanya bagaimana ia menjalankan pekerjaan-pekerjaannya.

Saat ini, Gek Oka menjalankan lima pekerjaan sekaligus, yakni sebagai Direktur Klinik MMC, Wakil Direktur Utama Bali Royal Hospital, Owner Wedding Organizer, Ibu Rumah tangga dengan dua orang putra, dan sebagai istri dari seorang suami. Kelimanya dijalankannya dengan baik, tanpa ada yang dinomorduakan. “Sulit memang, tetapi saya berusaha agar kelimanya berjalan dengan baik,” tuturnya.

Ketika ditanya bagaimana mungkin ia bisa menjalankan kelima pekerjaan itu sekaligus? Dengan enteng, Gek Oka menjawab “prinsipnya satu, jalani dengan enjoy dan bahagia”.

Selain kelima pekerjaan mengikat tersebut, Gek Oka juga dikenal sebagai pribadi yang aktif diluar bidang karirinya. Sesekali ia menjadi pembicara dibeberapa universitas dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu contohnya adalah ia menjadi pembicara di almamaternya yakni Fakultas Sastra Universitas Udayana, dalam rangka lokakarya dengan judul ‘Peluang Lulusan Sastra di Bursa Kerja. Selain itu, ia pernah menjadi dosen tamu bagi mahasiswa Jerman yang belajar di Universitas Udayana.

Banjir Penghargaan

Sosoknya yang aktif, cerdas, tekun, dan tegas ternyata banyak memberikan apresiasi baginya. Apresiasi itu hadir dengan banyak bentuk. Penghargaan-penghargaan membanjir disetiap perjalanan karirnya. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya antara lain adalah penghargaan sebagai salah satu dari 15 Wanita Inspiratif Indonesia oleh Forum Peduli Prestasi Bangsa, dan mendapatkan KARTINI AWARD pada tahun 2013.

Ia menyadari, setiap penghargaan yang diterimanya adalah tantangan. Menerima penghargaan berarti ia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga reputasi itu. Barometer eksistensi diri adalah sejauh mana ia mampu mempertanggungjawabkan kualitas dirinya bagi orang lain dan dirinya sendiri.

Penghargaan dalam bentuk seremonial, bukanlah tujuan utama Gek Oka. Penghargaan yang besar dan utama adalah dihargai dan disayangi. Kepada keluarga kecilnya, ia menanamkan nilai tersebut. Apapun prestasi yang diraih anak-anak dan suaminya, sangat patut baginya untuk diapresiasi. Dengan cara itulah, ia mengakui bahwa orang lain adalah manusia yang pantas dan harus diperlakukan secara manusiawi. Atra Senudin
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates