Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Gede Antaguna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gede Antaguna. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juli 2014

DPD KNPI Bali Akan Selenggarakan Dialog Jelang Pengumuman Hasil Pilpres 2014

Dok. balimeter.com
balimeter.com – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bali akan menyelenggarakan acara dialog publik. Acara yang bertema “Memantapkan Nasionalisme melalui Pesta Demokrasi” ini akan berlangsung besok (19/07) di Gedung Widhia Sabha Utama Universitas Warmadewa mulai pukul 08.00 Wita sampai selesai.

Peserta yang diundang sekitar 250 orang, terdiri dari akademisi, politisi, perwakilan organisasi kepemudaan, perwakilan BEM universitas seluruh Bali, perwakilan LSM, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Menurut Ketua Umum DPD KNPI Bali Nyoman Gede Antaguna, SE., SH., MH. atau yang akrab disapa Mangde, acara dialog publik ini sengaja diselenggarakan sebelum pengumuman hasil Pilpres 22 Juli 2014 oleh KPU.

“Kisruh saling kalim dan ngotot-ngototan antar kubu Capres terkait hasil Pemilu membuat masyarakat akar rumput bingung. Pemandangan seperti ini tidak elok dipertontonkan terus-menerus. Pesta demokrasi sudah dilewati dengan baik. Masyarakat seharusnya diberikan pendidikan politik yang baik. Tunggu saja hasil pengumuman resmi dari KPU. Kenapa harus ribut dengan data quick count versi lembaga survey?” ungkap Mangde.

Mangde menambahkan, diolog publik ini bertujuan untuk mengingatkan kita semua, pelaksanaan demokrasi yang baik mesti dibarengi dengan rasa nasionalisme yang kuat. Jika tidak, demokrasi akan tercerabut dari tujuannya,dan demokrasi akan mengancam persatuan bangsa. Elit politik seharusnya memberikan contoh berdemokrasi yang baik kepada masyarakat akar rumput. Bukannya terus-menerus menjalarkan akar permasalahan. Pelaksanaan demokrasi yang konstitusional akan menghasilkan kualitas demokrasi yang baik.

“Kami sebagai generasi muda bangsa yang peduli dengan keutuhan bangsa, sangat risau dengan konstalasi politik yang semakin memanas akhir-akhir ini, dampak dari kisruh soal hasil Pilpres. Untuk itu kami selalu berupaya menyediakan ruang saling mendengarkan, ruang saling berargumentasi yang mengedepankan etika melalui forum dialog ini,” kata Mangde. (Df)
Read more ...

Rabu, 16 Juli 2014

Memantapkan Nasionalisme Melalui Pesta Demokrasi

Oleh : Nyoman Gede Antaguna, SE., SH., MH.
Dok. Balimeter.com
Tahun 2014 menjadi tahun bersejarah dalam perjalanan demokrasi bangsa Indonesia. Pada tanggal 9 April 2014 kita telah melewati satu tahapan pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten/Kota dan Provinsi, Deawan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pemilihan anggota legislatif tersebut telah berjalan sesuai dengan rencana tahapan Pemilu. Segala tantangan dan hambatan telah dilewati dalam batasan konstitusi. Kemudian pada tanggal 9 Juni 2014 kita bangsa Indonesia telah melewati tahapan Pemilu Presiden (Pilpres). Sampai tulisan ini dibuat, Pilpres masih dalam tahapan perhitungan.

Pilpres 2014 ini memiliki keistimewaan tersendiri dibanding Pilpres langsung pada dua periode Pilpres sebelumnya. Pada Pilpres 2004 diikuti oleh lima pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres). Pada Pilpres 2009 diikuti oleh tiga pasangan Capres dan Cawapres. Sedangkan Pilpres kali ini hanya diikuti oleh dua pasangan Capres dan Cawapres. Keistimewaan yang pertama, dengan sedikitnya pasangan calon dapat diartikan bahwa calon yang tampil betul-betul telah melewati tahap kualifikasi oleh koalisi partai pengusung. Kedua, selera partisipasi masyarakat semakin meningkat. Ketiga, dari aspek penyelenggaraan tentu lebih efektif dan efisien. Apalagi Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutus, yang pada intinya Pilpres yang diikuti oleh dua pasangan calon cukup satu putaran.

Nasionalisme dan demokrasi adalah dua menu utama yang telah kita pilih sejak founding father kita mendirikan negara bangsa ini. Nasionalisme adalah jiwa kebangsaan, zat perekat, nilai pemersatu, rasa setia pada persatuan dan jaringan sel hidup yang melingkupi bangsa ini. Sedangkan demokrasi adalah cara kita menyelenggarakan kehidupan berbangsa dari, oleh dan untuk rakyat. Nasionalsme dan demokrasi adalah satu kesatuan yang utuh, ibarat jiwa dan raga yang mesti sama-sama sehat. Sebab bila jiwa saja yang sehat, maka tak ada apapun yang dapat dikerjakan. Sebaliknya bila raga saja yang sehat, raga akan bergerak tanpa kendali, laiknya manusia yang hehilangan akal sehat. Keduanya harus saling sinergi untuk mencapai tujuan.

Nasionalisme yang berlebihan akan tipis bedanya dengan fasisme. Nasionalisme yang kebablasan dapat mengarah pada tirani otoriterian. Bahkan, nasionalisme yang keterlaluan akan menghancurkan nilai-nilai demokrasi. Sebaliknya. Demokrasi yang berlebihan akan tipis bedanya dengan anarkisme. Demokrasi yang kebablasan akan mengarah pada liberalisme. Dan demokrasi yang keterlaluan akan menghancurkan nilai-nilai kebangsaan itu sendiri. Oleh sebab itu, keduanya harus diberi porsi yang seimbang agar tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berjalan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan tujuan yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Selanjutnya diatur dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan di bawahnya.

Kembali mengenai Pilpres 2014. Harus di akui, selera partisipasi rakyat dalam perhelatan demokrasi kali ini jauh lebih baik dibanding hajatan yang sama sebelumnya. Beberapa golongan masyarakat semisal seniman, akademisi, rohaniawan, dan aktivis LSM yang dulu bersikap abu-abu bahkan golput aktif, kini langka ditemukan. Mulai dari penyayi dangdut, penyanyi rock, bintang film, sampai penyayi punk sekalipun masing-masing punya Capres idola. Begitu pula akademisi, rohaniawan dan aktivis LSM, tak jarang kita temukan berdiri gagah di pangung-panggung utama saat kampanye Pilpres.

Kini gagap gempita dan hingar-bingar pesta demokrasi telah kita lewati dengan hati riang gembira. Tanggal 9 Juli rakyat telah menentukan pilihan. Masyarakat akar rumput kini sudah tenang dan kembali bekerja. Namun kelompok elit, terutama tim pemenangan masing-masing Capres rupanya tak setenang masyarakat akar rumput, malah tampaknya semakin menjalarkan akar masalah. Akar masalahnya dimulai dari saling klaim menang versi hitungan cepat (quick count) oleh lembaga survey. Kemudian beberapa hari ini nampaknya masing-masing kubu mulai klaim menang versi hitungan asli (real count) oleh tim masing-masing.

Berita saling klaim dan perdebatan antar tim soal hasil Pemilu di atas, tentu bukan pemandangan indah untuk dipertontonkan kepada masyarakat. Bukankah sudah ada Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga resmi yang diberi kewenangan untuk menyelenggarakan, menghitung serta menetapkan hasil Pemilu? Pada tanggal 22 Juli 2014 KPU akan mengumumkan secara resmi perolehan suara masing-masing pasangan calon. Bila ada pihak yang hendak menyanggah hasil penetapan KPU, konstitusi kita telah menyediakan jalur untuk mengajukan keberatan melalui Mahkamah Konstitusi.

Dalam menanti detik-detik pengumuman resmi KPU ini, saatnya memberikan pencerahan kepada masyarakat. Demokrasi kita adalah demokrasi konstitusional. Demokrasi kita dijalankan sesuai dengan kaidah-kaidah hukum yang berlaku. Bukan demokrasi lembaga survey. Bukan pula demokrasi tim pemenangan. Demokrasi yang dilaksanakan sesuai konstitusi akan memperkokoh dan memantapkan nasionalisme bangsa Indonesia. Dalam setiap kontestasi, tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Tetapi, dalam kontes demokrasi tidak pernah ada yang disisihkan karena semangat dalam kontes demokrasi adalah semangat yang dilandasi rasa persatuan dan kesatuan. Gagasan cemerlang membangun bangsa bukan untuk diadu, melainkan untuk saling disinergikan. Mari kita mantapkan nasionalisme kita melalui pesta demokrasi yang indah ini.

Penulis adalah Ketua Umum DPD KNPI Bali
Read more ...

Jelang Pilpres 2014, Merebut Simpati Tanpa Mencela

Oleh : Nyoman Gede Antaguna, SE., SH., MH.

Dok. Balimeter.com
Pemilihan Calon Presiden RI 2014 – 2019 tinggal hitungan hari. Perdebatan siapa calon presiden terbaik semakin sengit. Detik per detik: di media massa, media sosial, di pasar-pasar tradisonal, di super mall, di tempat-tempat keramaian, di sudut-sudut kampus, di mana-mana, dari lorong-lorong kota hingga ke pelosok desa dihiasi pembicaraan calon presiden. Begitu indahnya dinamika demokrasi yang menjunjung tinggi kemerdekaan berpendapat dan kemerdekaan memilih setiap orang.

Mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya, sedetail-detailnya dan sebenar-benarnya tentang rekam jejaak calon yang akan dipilih adalah sebuah keniscayaan. Kemerdekaan memilih pada akhirnya diharapkan menjadi sebuah demokrasi rasional, bukan demokrasi “Pokoknya si A” atau “Asal Bukan si B”.

Proses demokrasi melalui pemilihan presiden secara langsung tak kalah penting ketimbang hasil pemilihan. Proses yang baik sudah tentu akan melahirkan hasil yang baik. Jika diumpamakan proses sebagai mesin pencetak hasil, maka mesin tersebut mutlak harus dijaga keberlangsungannya. Jika mesin cetak rusak, maka rusak pula seluruh hasil berikutnya. Di tengah subjektivitas pilihan masing-masing, ada objektivitas proses yang baik menjadi kepentingan bersama untuk dijaga.

Dalam waktu yang relatif sigkat ini, mari kita jelaskan sebaik-baiknya visi dan misi, nilai lebih dan kompetensi masing-masing calon pilihan. Jangan lagi terjebak untuk saling menyerang, saling mencela, saling bongkar kekurangan, dan juga saling melempar isu yang tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebaik-baiknya hasil kerja politik adalah kerja politik mendapatkan dukungan dan simpati terbaik dari rakyat dengan proses yang baik. Tanggungjawab terbesar setiap insan politik bukan hanya sekedar memenangkan pertarungan politik, tetapi memberikan pendidikan politik kepada rakyat suatu keniscayaan.

Perbedaan cara pandang, perbedaan pilihan, perbedaan jalan yang ditempuh dan perbedaan cara kerja bukanlah sesuatu yang terlalu penting untuk diperdebatkan. Tetapi, ada yang lebih penting, yakni tawaran terbaik masing-masing untuk disinegikan. Dengan demikian, rakyat tidak lagi disuguhkan pemandangan usang kontra politik yang meresahkan. Sebaliknya, rakyat mendapatkan pencerahan politik yang menyejukkan. Kesejahteraan yang digembar-gemborkan tidak hanya terpenuhinya kebutuhan rakyat yang bersifat material. Tetapi, terpenuhinya suasana tentram selama proses demokrasi adalah kebutuhan rakyat yang bersifat spiritual.

Demokrasi adalah jalan terbaik yang telah kita pilih untuk mengantarkan rakyat mencapai kesejahteraan. Menjelang perhelatan pesta demokrasi, Pilpres 9 Juli 2014 nanti, telah lahir dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden. Semuanya adalah putra terbaik bangsa yang telah teruji melewati tahap demi tahap proses demokrasi. Semuanya telah hadir sebagai anak kandung demokrasi yang kita idam-idamkan. Pasangan nomor urut 1: Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Pasangan nomor urut 2: Joko Widodo – Jusuf Kalla. Di antara kedua pasangan ini, rakyat akan memilih salah satu pasangan terbaik untuk memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Mari kita raih simpati rakyat dengan memberikan informasi sebaik-baiknya calon pilihan kita, tanpa harus saling mencela yang lain.

KNPI Bali sebagai organisasi yang menghimpun seluruh elemen pemuda telah menentukan sikap politik. KNPI Bali telah menjatuhkan pilihan kepada demokrasi yang mencerdaskan. Oleh karena itu, NKPI Bali menyiapkan pentas pencerahan, ruang saling mendengarkan, dan panggung untuk saling meyakinkan

Penulis adalah Ketua Umum DPD KNPI Bali
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates