Breaking News

Rabu, 09 Juli 2014

Hari Imam Wahyudi,S.Psi.,Psikolog,Cht

Psikologi; Seni Tentang Prilaku Manusia

SENYUMAN ramah terpancar dari wajahnya, ketika dikunjungi Pos Bali beberapa waktu lalu. Dengan penuh kehangatan ia memperkenalkan kedua putra dan istrinya, yang sore itu menemaninya bekerja.

Ia adalah Hari Imam Wahyudi, seorang psikolog yang sukses meniti karir. Bukan hanya di bidang psikologi, ia ternyata pernah menggeluti dunia seni, khususnya seni lukis. Jiwa seni itulah yang kemudian membentuk pribadi Hari menjadi seoarng yang peka terhadap situasi sekitarnya. Seni lukis juga yang menjadikannya seperti sekarang, psikolog.

“Apa yang saya dapatkan hari ini, tentu saja tidak terlepas dari berbagai pengalaman masa lalu saya. Saya menyukai seni lukis dan saya sekarang dikenal sebagai psikolog. Dua sisi mata uang, yang melengkapi satu sama lain,” katanya membuka pembicaraan.

Hari menyadari, persoalan seni berkaitan dengan persoalan manusia. Psikologi merupakan seni tentang prilaku manusia. Memahami perilaku manusia merupakan bagian dari seni. “Seni itu keindahan,” katanya.

Dalam menjalani profesinya sebagai seorang psikolog, Hari banyak mendapatkan pengalaman berharga. Pengalaman-pengalaman itu diakuinya sebagai bentuk proses penyempurnaan terhadap ilmu yang sudah dipelajarinya. Dari pengalaman-pengalam itu, ia menyadari banyak persoalan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Kadangkala, persoalan itu tidak bisa diselesaikan sendiri sehingga butuh pihak lain seperti halnya seorang psikolog.

Ia mengisahkan, suatu ketika ia pernah menangani klien seorang remaja. Remaja tersebut menderita gagap dan sangat sulit diajak berkomunikasi. Setelah mengumpulkan banyak informasi, ia akhirnya mengetahui jika gagap yang diderita kliennya tersebut bukanlah cacat bawaan lahir melainkan karena merasa tertekan.

Sebagai seorang psikolog, tugasnya bukanlah mencari dakwaan atas kasus yang dialami kliennya. Ia menjadi penengah yang mencari penyebab sekaligus solusi. Baik anak tersebut maupun kedua orang tuanya perlu ditangani, sebagai bentuk pemecahan masalah. Setelah ditangani sesuai dengan prosedur, remaja tersebut kemudian pulih. Baginya, “Kesembuhan” setiap klien merupakan puncak kepuasan. “Kalau klien itu sembuh, saya merasa satu tugas saya sudah terselesaikan dengan baik,” ujarnya sambi tertawa.

Experientia Est Optima Rerum Magistra

“Pengalaman adalah guru yang baik,” ujar ayah dua anak ini. Pengalaman adalah proses penyempurnaan ilmu pengetahuan sekaligus pendewasaan diri. Pengalaman bersumber dari banyak hal. Baik kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain.

Kasus-kasus yang ditangani Hari, memberi pembelajaran tersendiri baginya. Dari setiap kasus diakuinya selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Salah satu contohnya adalah, ketika seorang remaja yang ditanganinya pulih. Kasus tersebut ternyata memberi pengetahuan baru bagi Hari dalam mendidik dan memperlakukan kedua putranya, yang kini beranjak remaja. “Semua ada manfaatnya, sekalipun itu adalah persoalan besar bagi orang lain,” ujarnya.

Karena banyak menangani kasus anak remaja, Hari bercermin diri melihat kehidupan keluarganya. Memiliki dua putra yang mulai tumbuh remaja, tentu dibarengi dengan persoalan-persoalan seputar remaja. Masa remaja anak-anaknya adalah salah satu proses kehidupan yang perlu diawasi. Tetapi ia menyadari, kehidupan anaknya adalah milik pribadi mereka. “Sebagai orang tua, kita tidak berhak atas kehidupan mereka. Perlu ada batasan dimana kita mesti ikut campur dengan urusan anak-anak dan mana yang tidak perlu,” tuturnya.

Ia menilai, memberikan kebebasan (bukan sebebas-bebasnya) kepada anak-anak memberikan dampak positif pada perkembangannya. Anak-anak perlu dibekali rasa percaya pada kemampuan yang mereka miliki. Dengan begitu, anak-anak merasa bahwa kehadiran mereka diterima dan dengan sendirinya akan muncul rasa tanggung jawab terhadapn diri sendiri dan orang tua. “Saya mengajari hal itu kepada anak-anak, dan mereka siap menerima resiko dari tindakan yang mereka ambil tersebut,” jelasnya diiringi derai tawa.

Sejak mendalami bidang psikologi, pria asal Malang, Jawa Timur ini tak menampik jika dirinya telah mempelajari banyak hal-hal baru. “Banyak sekali yang didapat, bukan hanya materi tetapi lebih kepada pengalaman hidup, yang saya yakin tidak bisa ditukar dan dinilai dalam bentuk materi,” tegasnya.

Tetap Rendah Hati


Sukses meraih karir menjadi seorang psikolog sejak tahu 2007 lalu, tak lantas membuat Hari berbangga diri. Belajar terus dilakukan tanpa mengenal ras puas. Haus akan kesempurnaan ilmu pengetahuan menjadi kunci utama untuk menimbulkan kemauan belajar. Alhasil, karir gemilang akan berjodoh dengan orang yang mau belajar dan memperbaiki kesalahan.

Tetap rendah hati, itulah semboyan yang dipegang teguh olehnya. Pujian-pujian yang diterima hanyalah bonus dari pekerjaan yang digelutinya. Melayani sepenuh hati menjadi kunci utama kepuasan bagi klien. “Kalau bekerja dengan sepenuh hati, maka hasil yang didapat pun tidak mengecewakan,” tuturnya.

Tetap redah hati juga diajarkannya kepada kedua putranya. Warisan yang luhur dan mulai, kata dia, adalah warisan budi pekerti. Warisan bukan hanya persoalan harta. Sebab, harta tidak akan abadi. Tetapi budi pekerti dan sikap yang baik akan dikenang sepanjang hayat. “Kalau kita tanamkan kebaikan, saya yakin itulah yang akan kita tunai. Saya percaya itu,” ujarnya penuh keyakinan.

Hari Dimata Keluarga

Ni Made Trisna Susanti,S.Psi., Psikolog, Ch,.CHt, mengenal sosok Hari sejak dibangku kuliah. Ia mengenal Hari sebagai sosok yang lembut sekaligus tegas, bertanggungjawab, dan juga cerdas. Hari adalah orang yang menyenangkan.

Selama 17 tahun menjalani hidup sebagai sepasang suami istri, Trisna Susanti masih melihat Hari sebagai Hari yang dulu saat masih kuliah. Tidak ada hal-hal mencolok yang berubah setelah menikah. “Masih begini ya, dari dulu saya masih melihatnya saat ini,” ujar Trisna Susanti.

Selain sebagai seorang suami, Hari dan Trisna Susanti menjadi rekan kerja dalam bidang yang sama. Hal ini membuat keduanya selalu dekat satu sama lain. Profesi yang sama menjadikan keduanya lebih mengerti satu sama lain. Pada titi ini, baik Hari maupun Trisna Susanti seringkali menjadikan pasangan masing-masing sebagai sahabat.

Trisna Susanti mengakui, ketika Hari bertugas keluar kota dalam jangka waktu yang cukup lama, sering membuatnya rindu. Saat-saat seperti itu, kedua putranya menjadi penghibur. “Kadang kalau saya mulai galau, saat bapak (Hari-red) tidak ada dirumah, anak-anak tahu itu dan mereka yang menghibur saya,” katanya.

Jika Trisna Susanti melihat Hari sebagai sosok yang menyenangkan, kedua putranya Rachmandian Haryasaka dan Ferdian Harya Muhamad melihat ayahnya sebagai seorang idola. Sosok Hari memberi inspirasi tersendiri bagi kedua putranya. “Bangga kok punya ayah seperti ayah Hari,” ucap Rachmandian Haryasaka.

Disinggung apakah keduanya akan mengikuti kedua jejak orangtuanya untuk mendalami bidang psikologi, baik Rachman maupun Ferdian tampak tersipu. Keduanya mengaku saat ini belum tertarik untuk mendalami bidang yang membesarkan nama kedua orangtuanya. “Nanti dulu deh, sekarang masih belum kepikiran,” kata Rachman.

Senada dengan kedua putranya, Hari menjelaskan saat ini kedua putranya masih tertarik dengan bidang-bidang yang masih sebatas hobby saja. “Kalau yang sulung (Rachman-red) masih tertarik dengan skateboard, sedangkan adiknya (Ferdian-red) sekarang tertarik dengan dunia militer. Belum tahu kedepannya seperti apa,” jelas Hari. Atra Senudin

Pelukis yang Jadi Psikolog

Hari Imam Wahyudi, pernah mendalami bidang seni lukis sejak masih dibangku SMA. Kecintaannya pada seni lukis memberinya prestasi sebagai karya lukis terbaik tingkat kecamatan, dikampung halamannya, Malang Jawa Timur. Prestasi tersebut ternyata menjadi pemicu untuknya melangkah terus mendalami bisang seni.

Saat ia masih duduk di bangku SMA, dukungan keluarga terhadap bakatnya sebagai seniman lukis ternyata begitu besar. Ia bahkan diberikan pilihan untuk mencari kampus yang khusus belajar tentang seni lukis.

Setelah tamat SMA, Hari sempat dilema untuk mencari kampus yang betul-betul mendalami seni lukis. Saat itu, ia bahkan sempat ditawari untuk menjadi guru seni lukis. Tetapi dalam benaknya, ia hanya ingin menjadi seniman lukis bukan guru seni lukis. Karenanya, tawaran tersebut ditolak.

Sayangnya, sebelum mendapatkan kampus yang mendalami dunia seni lukis, Hari diterpa suatu kenyataan pahit. Situasi membuatnya harus beralih untuk meninggalkan mimpinya sebagai seorang seniman lukis. Saat itu, suatu kenyataan yang tidak bisa ditampik adalah pandangan masyarakat luas tentang seniman.

Menjadi seniman, itu artinya tidak menjanjikan. Penghasilan tidak tetap dan jumlahnya sangat kecil. Ketika itu, seniman belum dikategorikan sebagai sebuah profesi yang menghidupkan. Menjadi seniman berarti rela menjadi miskin. Pandangan itulah kemudian yang menyisahkan dilema bagi Hari.

Hasilnya, ia kemudian meninggalkan dunia seni lukis yang menjadi cita-citanya saat itu. Memilih untuk mendalami dunia psikologi bukan persoalan muda. Sebelum mendalami dunia psikologi, hari sempat ditawari untuk kuliah dibidang hukum. Saat itu, fakultas hukum sangat diminati banyak orang. Tetapi realitas yang terjadi adalah banyak lulusan sarjana hukum saat itu belum mendapatkan pekerjaan. Krisi itulah yang membulatkan tekadnya untuk mencari fakultas yang terbilang masih langka.

Hingga suatu saat, seorang saudara Hari yang juga mendalami bidang psikologi memberikan petunjuk dan gambaran jelas tentang dunia psikologi. Gambaran tersebut bukan hanya membuka wawasannya melainkan beralih menjadi sebuah tawaran yang menyenangkan. Psikologi dan seni tidak terlepas satu sama lain, karena keduanya berbicara soal manusia. “Saya tertarik dengan dunia psikologi karena dunia seni yang saya dalami tidak semuanya dicampakan begitu saja,” ujarnya.

Karena dunia seni dan psikologi masih memiliki korelasi, ia kemudian memilih untuk mendalami bidang psikologi. Lambat laun, ia mulai belajar banyak tentang kehidupan manusia sambil sesekali menyalurkan hobbynya dalam bidang seni lukis. Kedua bidang tersebut berjalan beriringan satu sama lainnya.Selama menjadi mahasiswa, Hari juga aktif diberbagai organisasi kampus. Haus akan pengalaman baru dan pengetahuan membuatnya tidak pernah lelah belajar.

Ketika kemudian lulus menjadi seorang psikolog, Hari tidak langsung terjun ke lapangan untuk mempraktekan ilmunya. Ia bahkan pernah menjadi pegawai PT. Federal International Finance (member of Astra International Tbk), mulai dari Surveyor (1997 – 2000), Representatif Head (2000 – 2003), Representatif Head (2000 – 2003), Representatif Head (2000 – 2003), Branch Manager (2003 – 2006), Officer Head Office (2006 – 2007).

Bagi hari, setiap tahap dalam pekerjaannya merupakan ujian kemampuan dan kualitas diri. Jika karir beranjak naik, maka bisa dipastikan jika kualitas diri juga mengalami peningkatan. Karenanya, setelah mencapai puncak kariri menjadi Officer Head Office, Hari memilih untuk meninggalkan pekerjaannya tersebut. Ia kemudian mulai menjadi seorang psikolog, mempraktekan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya.

Pada tahun 2007, Hari kemudian mendalami bidang psikologi dengan serius. Ia mendalami beberapa ilmu baru seperti hypnoterapi. Ilmu tersebutlah yang menunjang kehidupannya saat ini. “Apa yang kita pelajari, pasti akan bermanfaat untuk kita, sekarang ataupun nanti,” ujarnya.

Saat sudah berhasil meniti karir sebagai seorang psikolog, Hari kini mulai memiliki banyak waktu untuk kembali menyalurkan bakatnya, seni lukis. Meski tidak melukis seperti dulu, Hari mengaku saat ini sering menikmati karya-karya lukisan. “Seni lukis itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja,”akunya.

Meski tidak melukis menggunakan kuas dan kanvas, saat ini Hari lebih tertarik untuk mendalami fotografi. Fotorgrafi dinilainya lebih mudah dan memberikan keleluasaan bagi penggemarnya. “Kalau fotografi kan, ada obyek yang bagus langsung di jepret aja,” katanya sambil tertawa.

Seni lukis, Psikolog, dan fotorgarafi, baginya adalah seni. Ketiganya adalah keindahan. Mendalami ketiga bidang tersebut merupakan salah satu cara untuk mengasah kepekaan. “Dari ketiga bisang tersebut, memang tidak semuanya menghasilkan materi. Tetapi kepuasan dan kebahagian yang didapat melebihi materi,” tuturnya santai. Atra Senudin

BIODATA
Nama : Hari Imam Wahyudi, S.Psi., Psikolog, Ch., CHt.
Panggilan : Hari
TTL : Malang, 26 Oktober 1971
Pendidikan : Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang 1989
Istri : Ni Made Trisna Susanti, S.Psi., Psikolog, Ch,. CHt.
Anak : 1. Rachmandian Haryasaka  2. Ferdian Harya Muhamad
Alamat : Jalan Palapa XI, Perumahan Griya Palapa Mas Kav.9, Sesetan, Denpasar.

2 komentar:

Designed By Published.. Blogger Templates